WELCOME MY BLOG GUDANG AKUNTANSI DAN ILMU PENGETAHUAN MAHASISWA LAINX

Kamis, 01 Desember 2011

Teori Ekonomi Makro menurut Keynes

Sebelum terjadinya kelesuan perekonomian dunia tahun 1929-1933 yang dikenal sebagai Depresi Besar (Great Depression), ilmu ekonomi tidak mengenal dikotomi Mikro-Makro.

 Fokus pembahasan ilmu ekonomi pada masa Sebelum Depresi Besar adalah perilaku individu dalam rangka mencapai keseimbangan. Untuk analisis kese¬imbangan umum (Senoal equilibrium), digunakan model Walras (Walrasian economics). Dengan model-model tersebut, para ekonom berkeyakinan bahwa masa depan perekonomian akan gemilang. Dalam jangka panjang setiap pelaku ekonomi yang terlibat dalam proses pertukaran lewat mekanisme pasar akan memperoleh keuntungan. Posisi keseimbangan masing-masing individu makin membaik yang mengakibatkan masya¬rakat dalam perekonomian makin makmur dan adil.. Kemakmuran muncul karena makin tingginya produktivitas manusia. Sedangkan produktivitas yang menibaik ada¬lah buah dari persaingan yang memaksa manusia melakukan spesialisasi.

Namun, tidaklah berarti dunia tidak akan pernah mengalami masalah ekonomi dalam proses pertukaran. Misalnya,sampai batas-batas tertentu akan terjadi kelebihan penawaran tenaga kerja yang mengakibatkan pengangguran. Tentu saja pengangguran ini dapat menimbulkan kelesuan ekonomi. Tetapi tidak akan pernah terjadi kelesuan Yang bersifat umum dan berjangka panjang (general gait), sebab mekanisme pasar akan melakukan koreksi mandiri (self correcting),sehingga perekonomian akan kembali pulih seperti sediakala.


Sayangnya Depresi Besar (treat Depression) membuyarkan keyakinan terhadap hipotesis Ekonomi Klasik. Sebab, Depresi Besar terjadi dalam jangka waktu yang lama (1929-1933) dan menimbulkan masalah-masalah besar. Misalnya, di Amerika Serikat seisms periode Depresi Besar tingkat pengangguran mencapai angka lebih dari 25,10 angkatan kerja, output perekonomian berkurang sekitar separonya, sementara tingkat investasi merosot tajam.

Untunglah dalam keadaan yang genting seperti di atas, seorang ekonom Inggris, John Maynard Keynes, melontarkan pendapat untuk memperbaiki keadaan melalui bukunya The General Theory of Employment, Interest and Money, yang terbit tahun 1936. Dalam bukunya, yang lebih dikenal sebagai The GeneralThrory, Keynes menyampaikan dua hal pokok. Yang pertama adalah kritik ilmiah terhadap kebenaran hipotesis Klasik tentang keampuhan mekanisme pasar yang dipercayai sejak zaman Adam Smith. Menurut Keynes, kelemahan Teori Klasik adalah lemahnya asumsi tentang pasar yang dianggap terlalu idealis (utopian) dan terlalu ditekankannya masalah ekonomi pads sisi penawaran. Berkaitan dengan kritik tersebut, Keynes menyampaikan pokok pikiran Yang kedua berupa usulan pemulihan dengan memasukkan peranan pemerintah dalam perekonomian dalam rangka menstimulir sisi permintaan.

Kedua pokok pikiran Keynes tersebut di atas membawa beberapa pembaruan radikal dalam ilmu ekonomi. Yang pertama, mulai diperhatikannya dimensi global atau agregat (makro) dalam analisis ilmu ekonomi. Dengan demikian ilmu ekonomi telah berkembang menjadi ilmu ekonomi makro. Kedua, dimasukkannya peranan pemerintah dalam analisis ilmu ekonomi telah menimbulkan pentingnya peranan analisis kebijakan (policies analysis). Ketiga, dengan dirasa perlunya analisis kebijakan, maka dirasakan perlunya studi-studi empiric. Dengan demikian terjadi perubahan/penyempurnaan metodologi dalam analisis ekonomi, dari hanya mengandalkan metode deduktif menjadi jugs menggunakan metode induktif. Tidak berlebihan jika Keynes dihormati sebagai bapak ilmu ekonomi makro, sekaligus ekonom perintis studi induktif.


Dalam khasanah ilmu ekonomi, keseimbangan disebut dengan 'ekuilibrium’, being equal , suatu keadaan ketika kurva permintaan dan penawaran bertemu pada suatu titik (Sumodiningrat, 2008). Ketika kondisi equilibrium tidak tercapai atau terjadi kegagalan pasar, maka akan timbul kerugian yang akan dialami oleh pelaku pasar, apakah produsen ataupun konsumen juga dapat menimbulkan dead weight loss, serta memungkinkan pemerintah untuk mendapatkan tambahan kesejahteraan dari kondisi pasar yang memungkinkan.
Dalam perkembangan sejarah perekonomian dunia, terjadi ketidakseimbangan yang berdampak pada fluktuasi ekonomi yang besar, menyengsarakan, terjadi pengangguran besar-besaran dan penurunan pendapatan yang sangat signifikan besar yang kemudian dikenal sebagai sejarah pahit dalam perkonomian dunia “Great Depression” pada tahun 1930-an. Dalam kondisi perekonomian yang mengalami guncangan, maka banyak para ekonom mempertanyakan mengenai keakuratan dan kemampuan dari teori ekonomi klasik dalam menghadapi kondisi perekonomian yang buruk. Dari sudut pandang klasik dikemukakan bahwa pendapatan nasional tergantung pada penawaran faktor dan ketersediaan teknologi , yang pada kenyataanya tidak mengalami perubahan secara substansial dari tahun 1929-1933.
Lalu pada tahun 1936, ekonom Inggris yang bernama Keynes melakukan revolusi terhadap ilmu ekonomi dengan menerbitkan The General Theory of Employment, Interest and Money. Keynes memberikan pilihan alternatif terhadap teori ilmu ekonomi dari klasik. Menurut pandangan Keynes bahwa Aggregat Demand(AD) bertanggung jawab terhadap pendapatan yang rendah dan tingginya tingkat pengangguran sebagai karakteristik kemerosotan ekonomi. Kritik Keynes terhadap klasik adalah klasik mengasumsikan hanya dari sisi Aggregat Supply (AS) dari sisi modal, tenaga kerja, dan teknologi yang merupakan pendapatan nasional, namun tidak mempertimbangkan dari sisi permintaan.
Sehingga untuk mencapai titik keseimbangan maka digabungkanlah antara permintaan agregat dan penawaran agregat. Dalam jangka panjang harga bersifat fleksibel dan penawaran agregat menetukan pendapatan. Tetapi dalam jangka pendek tidak demikian, karena harga bersipat kaku sehingga penentuan pendapatan dari sisi permintaan agregat. Jadi dapat dilihat teori klasik dengan konsep jangka panjang selalu terjadi equilibrium dan perekonomian mengalami pertumbuhan, sedangkan Keynes dengan konsep jangka pendek tidak terjadi keseimbangan seperti yang terjadi pada klasik, aka nada fluktuasi dalam ekonomi.
• Perbedaan Klasik dan Keynes terhadap Pasar Uang
Mereka memiliki pandangan yang berbeda. Menurut klasik fungsi uang sebagai alat transaksi, sedangkan menurut pandangan Keynes fungsi uang adalah alat atau media transaksi dan penyimpan nilai kekayaan. Dimana permintaan akan uang untuk transaksi adalah uang kartal + uang giral.
• Perbedaan Klasik dan Keynes terhadap Suku Bunga
< Menurut pandangan klasik, penentuan suku bunga terjadi di pasar barang (leonable fund theory), sedangkan menurut Keynes, penentuan suku bunga terjadi di pasar uang (preferen liquidity).

3 komentar:

  1. terima kasih infonya, salam kenal dari saya :)

    BalasHapus
  2. maaf,boleh saya nanya dengan anda ?
    apakah teori ekonomi mikro menurut keynes nie berdasarkan nalar dan empiris ??
    jika iya,,apa alasannya ??

    BalasHapus