WELCOME MY BLOG GUDANG AKUNTANSI DAN ILMU PENGETAHUAN MAHASISWA LAINX

Rabu, 28 Maret 2012

Pengertian Persediaan dan Cara Pencatatan

Persediaan merupakan barang yang diperoleh untuk dijual kembali atau bahan untk diolah menjadi barang jadi atau barang jadi yang akan dijual atau barang yang akan digunakan. Persediaan ini dapat dicatat dengan dua sistem yaitu: Sistem Periodik dan Sistem Perpetual.
Berikut ini adalah ilustrasi jurnal untuk sistem perpetual dan sistem periodic, namun belum mencakup seluruh transaksi berkaitan dengan persediaan, seperti pembayaran ongkos angkut, penerimaan dan pemberian diskon.
Transaksi
Sistem Periodik
Sistem Perpetual
1.
Membeli barang dagangan secara kredit Rp 10.000
Pembelian
Hutang
10.000

 
10.000
Persediaan Brg Dag
Hutang
10.000

 
10.000
2.
Retur pembelian Rp 500
Hutang
Retur Pembelian
500

 
500
Hutang
Persediaan Brg Dag
500

 
500
3.
Terdapat barang yang dijual. Harga jual Rp 4.000 dan harga pokok barang Rp 1.500
Piutang/Kas
Penjualan
4.000

 
4.000
Piutang/Kas
Penjualan
HPP
Persediaan Brg Dag
4.000

 
1.500

 
4.000

 
1.500
4.  
Pada akhir tahun 
Mutlak harus dilakukan inventarisasi fisik karena tanpa inventarisasi fisik barang, tidak dapat diketahui persediaan yang ada
Tanpa inventarisasi sudah dapat diketahui persediaan, namun inventarisasi perlu dilakukan 
Misalkan menurut perhitungan fisik pada akhir tahun saldo persediaan Rp 200 dan pada awal tahun Rp 150.

 
Ikhtisar L/R
Persediaan B.D.

 
Persediaan B.D
Ikhtisar L/R
150
 

200

 
  150
 

200
Jika hasil inventarisasi fisik tidak sama dengan saldo rekening persediaan, perusahaan perlu membuat jurnal, jika sama tidak perlu membuat jurnal.

 
1.      MENENTUKAN COST DARI PERSEDIAAN AKHIR
Sebagai contoh data persediaan barang dagangan untuk bulan Januari 2012 sebagai berikut:

Januari 1 Persediaan          200 unit @ $10 = $2,000
          12 Pembelian          400 unit @ $12 = $4,800
          26 Pembelian          300 unit @ $11 = $3,300
          30 Pembelian          100 unit @ $13 = $1,300

Setelah dilakukan inventarisasi fisik, jumlah pesediaan per 31 Januari 2012 adalah 300 unit. Tentukan:
1.      Persediaan per 31 Januari 2012.
2.      Harga pokok persediaan yang dijual dalam bulan Januari 2012.
Barang yang tersedia untuk dijual selama bulan Januari adalah 200 + 400 + 300 + 100 = 1.000 unit, maka barang yang dijual adalah 1.000 – 300 = 700 unit. Karena harga belinya berbeda-beda, maka perlu asumsi arus barang yang akan digunakan sebagai dasar penentuan harga pokok barang yang dijual dan persediaan akhir sebagai berikut:
1.  FIFO (First In First Out), barang yang masuk terlebih dahulu dianggap yang pertama kali dijual/keluar sehingga persediaan akhir akan berasal dari pembelian yang termuda/terakhir.
2.    LIFO (Last In First Out), barang yang terakhir masuk dianggap yang pertama kali keluar, sehingga persediaan akhir terdiri dari pembelian yang paling awal.
3.     Rata-rata (Everage), pengeluaran barang secara acak dan harga pokok barang yang sudah digunakan maupun yang masih ada ditentukan dengan cara dicari rata-ratanya.
Penerapan asumsi ini berlaku baik dalam sistem periodik maupun dalam sistem perpetual.
  1. Jika perusahaan menggunakan Sistem Periodik
    1. FIFO
Dengan metode ini jumlah barang yang digunakan sebanyak 700 unit diasumsikan berasal dari barang yang pertama kali dibeli, yaitu:
    200 unit                @ $10 =      $2,000
    400 unit                @ $12 =      $4,800
    100 unit                @ $11 =      $1,100
    Harga pokok penjualan             $7,900
Selanjutnya persediaan yang 300 unit dianggap dari pembelian tanggal 26 dan 30 Januari 2012 dengan rincian sebagai berikut:
    200 unit                @ $11 = $2,200
    100 unit                @ $13 = $1,300
    Persediaan akhir                 $3,500

    1. LIFO
Dengan metode ini jumlah barang yang dijual sebanyak 700 unit diasumsikan berasal dari barang yang terakhir dibeli, yaitu:
100 unit                @ $13 = $1,300
300 unit                @ $11 = $3,300
300 unit                @ $12 = $3,600
Harga pokok penjualan        $8,200
Selanjut persediaan akhir 300 unit dianggap berasal dari pembelian tanggal 1 dan 12 Januari 2012, yaitu:
200 unit                @ $10 = $2,000
100 unit                @ $12 = $1,200
Persediaan akhir                 $3,200
 
3.  Metode Rata-rata

Untuk menghitung persediaan akhir dan harga pokok penjualan perlu dibuat perhitungan sebagai berikut:
Tanggal
Keterangan
Unit
Harga per Unit
Jumlah
Jan 1
Persediaan
200
$10
$2,000
12
Pembelian
400
$12
$4,800
26 
Pembelian 
300
$11 
$3,300 
30 
Pembelian 
100 
$13 
$1,300 
Jumlah 
1,000 

$11,400 
Rata-rata = $11,400 : 1,000 
$11.4 
Harga pokok penjualan = 700 x $ 11.4 = $7,980
Persediaan akhir = 300 x $11.4 = 3,240

 
          2.     Jika perusahaan menggunakan Sistem Perpetual
Jika perusahaan menggunakan sistem perpetual, penentuan harga pokok barang yang dijual dan persediaan akhir dilakukan setiap perusahaan menjual barang. Untuk mempermudah pekerjaan menentukan harga pokok ini digunakan suatu kartu yang lazim disebut Kartu Persediaan. Satu jenis barang disediakan satu Kartu. Dengan demikian sistem ini baru cocok untuk persediaan yang nilainya tinggi.
Misalkan atas satu jenis barang diperoleh informasi sebagai berikut:
    Tanggal 
Keterangan 
Unit 
Harga Beli per Unit 
Jan. 1 
Persediaan 
200 
$10 
12  
Pembelian
400 
$12 
17  
Dijual 
300 

26 
Pembelian 
300 
$11 
27  
Dijual 
200 

28 
Dijual 
300 

30 
Pembelian 
100 
$13 

Berikut ini hanya diberikan contoh metode FIFO:

 
Tgl

 
Ket
Dibeli
Dipakai
Persediaan
Unit
Cost
Jumlah
Unit
Cost
Jumlah
Unit
Cost
Jumlah
Jan 1
Persediaan






200
10
2,000
12 
Pembelian 
400
12
4,800



200
400 
10
12 
2,000
4,800 
17 
Dijual 



200
100
10
12
2,000
1,200
300 
12 
3,600 
26 
Pembelian 
300 
11 
3,300 



300
300 
12
11 
3,600
3,300 
27 
Dijual 



200
12
2,400
100
300 
12
11 
1,200
3,300 
28 
Dijual



100
200 
12
11 
1,200
2,200 
100 
11 
1,100 
30 
Pembelian 
100 
13 
1,300 



100
100 
11
13 
1,100
1,300 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar